Fisikawan Sebut Waktu Ternyata Ilusi, Simak Penjelasannya
Jakarta – Waktu adalah penanda dari kumpulan kejadian, tindakan, atau status yang tersebut berlangsung. Waktu diukur dengan hitungan hari, jam, menit, detik, dan juga seterusnya untuk menentukan periode tertentu.
Namun, para fisikawan menganggap waktu sebagai konsep yang rumit lantaran perilakunya yang dimaksud tidaklah konsistensi dengan teori-teori utama tentang alam semesta, menciptakan kebuntuan yang dimaksud menghalangi penemuan “teori segala hal,” sebuah kerangka yang dimaksud menjelaskan semua aspek fisika pada alam semesta.
Beberapa studi teoritis bahkan menunjukkan bahwa waktu mungkin saja hanyalah ilusi yang tersebut muncul pada tingkat kuantum. Mengapa demikian? Berikut penjelasannya.
Pandangan Fisikawan Tentang Waktu
Menurut sebuah studi baru yang digunakan diterbitkan jurnal Physical Review A pada pada 10 Mei 2024, peneliti menemukan bahwa waktu mungkin saja bukanlah elemen mendasar alam semesta, melainkan ilusi yang dimaksud muncul dari keterikatan kuantum.
Para peneliti menyarankan bahwa dia mungkin saja telah dilakukan menemukan petunjuk untuk memecahkan hambatan yang disebutkan dengan menjadikan waktu sebagai konsekuensi dari keterikatan kuantum, yaitu hubungan aneh antara dua partikel yang digunakan berjauhan.
“Ada cara untuk memperkenalkan waktu yang digunakan tegas dengan hukum klasik serta hukum kuantum, juga merupakan manifestasi dari keterikatan,” tulis Alessandro Coppo, manusia fisikawan di dalam Dewan Investigasi Nasional Italia, memaparkan mengutip Live Science.
“Korelasi antara jam serta sistem menciptakan kemunculan waktu, unsur mendasar pada keberadaan kita.”
Teori tentang Waktu
Dalam teori mekanika kuantum, waktu dianggap sebagai fenomena yang digunakan tak berubah serta mengalir satu arah dari masa berikutnya ke masa pada saat ini tanpa dapat dihindari.
Waktu berada di luar dari sistem yang digunakan aneh dan juga terus berubah yang tersebut diukur. Waktu belaka dapat dilihat melalui pembaharuan pada entitas eksternal seperti jarum jam.
Namun, teori relativitas umum Einstein menyatakan bahwa waktu terkait erat dengan ruang lalu bisa saja dilengkungkan juga dilatasi pada kecepatan lebih tinggi atau ke bawah pengaruh gravitasi.
Ini menyebabkan ketidaksesuaian mendasar antara dua teori terbaik yang digunakan kita miliki tentang realitas. Tanpa penyelesaian untuk perbedaan ini, teori yang digunakan koheren tentang segala hal kekal tiada dapat dicapai.
“Tampaknya ada ketidakkonsistenan kritis pada teori kuantum,” kata Coppo. “Ini yang digunakan kami sebut hambatan waktu.”
Untuk mengatasi kesulitan ini, para peneliti beralih ke teori yang dimaksud disebut mekanisme Page kemudian Wootters. Teori ini pertama kali muncul pada tahun 1983, yang tersebut menyatakan bahwa waktu muncul untuk satu objek melalui keterikatan kuantumnya dengan objek lain yang mana bertugas sebagai jam.
Di sisi lain, untuk sistem yang mana tidaklah terjerat, waktu bukan ada, juga sistem yang dimaksud menganggap alam semesta membeku serta tiada berubah.
Dengan menerapkan mekanisme Page kemudian Wootters pada dua keadaan kuantum teoritis yang digunakan saling terkait namun tiada berinteraksi — satu terdiri dari osilator harmonik yang mana bergetar lalu yang mana lainnya merupakan sekumpulan magnetik kecil yang tersebut beraksi sebagai jam — para fisikawan menemukan bahwa sistem merek dapat dijelaskan dengan sempurna oleh persamaan Schrödinger, yang memprediksi perilaku objek kuantum.
Namun, alih-alih menggunakan waktu, versi persamaan terkenal ini beroperasi berdasarkan keadaan magnetik kecil yang digunakan berperan sebagai jam.
Penemuan ini sebenarnya bukanlah hal baru. Mereka mengulang perhitungan mereka itu dua kali, pertama dengan asumsi bahwa jam daya tarik dan juga kemudian bahwa osilator harmonik adalah objek makroskopis (yang lebih tinggi besar).
Persamaan mereka disederhanakan menjadi persamaan fisika klasik, menunjukkan bahwa aliran waktu adalah akibat dari keterikatan kuantum bahkan untuk objek yang mana lebih tinggi besar.
“Kami sangat yakin bahwa arah yang tersebut benar dan juga logis adalah memulai dari fisika kuantum kemudian memahami cara mencapai fisika klasik, bukanlah sebaliknya,” kata Coppo.
Sementara itu, fisikawan lain menyarankan untuk berhati-hati. Walaupun merekan menganggap mekanisme Page serta Wootters sebagai konsep menantang untuk mengerti asal-usul kuantum waktu, merekan menyatakan bahwa mekanisme yang dimaksud belum memberikan hasil yang digunakan dapat diuji secara ilmiah.
“Ya, secara matematis konsentris untuk menganggap waktu universal sebagai keterikatan antara medan kuantum dan juga keadaan kuantum ruang 3D,” kata Vlatko Vedral, pribadi profesor ilmu informasi kuantum dalam Universitas Oxford.
“Namun, tidaklah individu pun tahu apakah sesuatu yang dimaksud baru atau bermanfaat akan muncul dari pandangan ini — seperti perubahan fisika kuantum serta relativitas umum, juga uji eksperimental yang dimaksud sesuai.”
Meskipun ada keraguan, mengembangkan teori waktu berdasarkan mekanika kuantum mungkin saja masih berubah menjadi pendekatan yang menjanjikan, asalkan teori yang dimaksud dapat disesuaikan dengan hasil eksperimen.
“Mungkin ada sesuatu tentang keterikatan yang dimaksud berperan,” kata Adam Frank , fisikawan teoretis ke University of Rochester ke New York.
“Mungkin satu-satunya cara untuk mengenali waktu bukanlah dari sudut pandang Tuhan, tetapi dari dalam, dari sudut pandang bertanya apa yang digunakan ada pada keberadaan yang digunakan menunjukkan penampakan dunia seperti itu,” imbuhnya.
RIZKI DEWI AYU
Artikel ini disadur dari Fisikawan Sebut Waktu Ternyata Ilusi, Simak Penjelasannya



