Roti Okko Ditarik dari Peredaran, Pemilik Warung Ini adalah Wanti-wanti: Jangan Bikin Rugi, Layanan Ditarik tapi Tidak Dibayar..
Jakarta – Tak sedikit pelaku Usaha Mikro, Kecil, kemudian Menengah (UMKM) yang mana ketar-ketir pada waktu sibuk pemberitaan mengenai komoditas roti Okko yang tersebut disebut terbukti mengandung zat pengawet kosmetik. Apalagi belakangan ada perintah dari Badan Pengawas Jalan keluar lalu Makanan atau BPOM agar produsen menyita perhatian produk-produk itu dari bursa serta memusnahkannya.
Mami, salah satu pemilik warung yang tersebut mengirimkan roti Okko di dalam tempat Jalan Inspeksi Saluran Kalimalang, DKI Jakarta Timur, salah satunya salah satu yang tersebut khawatir. Namun hingga kini, kata dia, belum ada arahan tambahan lanjut mengenai pencabutan komoditas Okko.
Di etalase toko Mami pun masih terlihat banyak produk-produk roti Okko. “Belum, masih tenang aja nih, sales-nya baru ngisi juga dua hari yang lalu,” katanya pada Tempo, Rabu, 24 Juli 2024.
Menanggapi adanya perintah BPOM untuk menyita perhatian juga memusnahkan hasil roti Okko, Mami mengaku bersedia mengikuti aturan yang digunakan yang dimaksud menghadapi alasan keamanan. Namun, ia juga mewanti-wanti agar jangan sampai kebijakan itu membuatnya rugi. “Tapi jangan bikin kehilangan saya. (Produk) ditarik, tapi nggak dibayar,” kata Mami.
Hal yang dimaksud merespons pengumuman BPOM perihal hasil uji komposisi natrium dehidroasetat pada komoditas roti Aoka lalu roti Okko. Hasilnya, komoditas roti Okko terbukti mengandung zat natrium dehidroasetat, sedangkan barang Aoka dinyatakan tiada mengandung zat tersebut.
“Hasil pengujian terhadap sampel roti Okko dari sarana produksi serta peredaran menunjukkan adanya natrium dehidroasetat (sebagai asam dehidroasetat) yang tersebut tidaklah sesuai dengan komposisi pada pada waktu pendaftaran barang juga tiada di antaranya BTP yang digunakan diizinkan berdasarkan Peraturan BPOM Nomor 11 Tahun 2019 tentang Bahan Tambahan Pangan,” ungkap Biro Kerja Sama serta Hubungan Warga BPOM melalui keterang resmi, dikutipkan Rabu, 24 Juli 2024.
Terhadap hasil pengujian dan juga penemuan ini, BPOM memerintahkan produsen roti Okko untuk mengejutkan komoditas dari pasaran, memusnahkan, lalu melaporkan hasilnya untuk BPOM.
Selain penjual roti Okko, banyak pemberitaan masalah komoditas roti yang tersebut diduga mengandung isi pengawet kosmetik juga berdampak ke penjual roti merek Aoka.
Kendati BPOM tak menemukan material berbahaya pada roti Aoka, beberapa penjual item itu turut terimbas sebab penjualannya segera turun.
Erie, pemilik warung di Jalan Raya Kalimalang, DKI Jakarta Timur, misalnya. Di etalase warungnya kemarin terlihat jajaran hasil roti Aoka yang belum tersentuh. Ia bercerita, sejak berbelanja stok tiga hari lalu, komoditas roti Aoka di warungnya baru terjual sepuluh.
Ia berikutnya membandingkan hasil penjualan jualan roti Aoka sebelum isu zat zat berbahaya pada barang ini mencuat. Kala itu, jualan roti yang disebutkan bisa jadi mencapai 100 bungkus per minggu. “Buat saya tukang jualan kecil juga merasa, lah. Omzet kita merosot gitu. Istilahnya, kan kita mah warga nyari recehan,” kata Erie terhadap Tempo, Rabu, 24 Juli 2024.
Sementara itu, tak sangat dari toko Erie, sebuah toko sembako lainnya juga merasakan penurunan pemasaran barang roti Aoka.Pemiliknya, Ahmad, memaparkan biasanya pelanggan akan mencari roti tersebut. Namun, belakangan ini sudah ada tak ada lagi yang menanyakan komoditas roti Aoka. “Sebelum ada berita itu (roti Aoka) laku pada sini. Kalau nggak ada itu, ditanya serupa orang,” tutur Ahmad.
Stok barang roti Aoka yang belum terjual dalam Warung Erie di dalam Jalan Raya Kalimalang, Ibukota Indonesia Timur, Rabu, 24 Juli 2024. Tempo/Ervana.
Beberapa kilometer dari toko sembako Ahmad, ada toko kelontong milik Imam. Ketika ditemui, Imam memperlihatkan stok item roti Aoka yang mana ada dalam tokonya terhadap Tempo. Di pada sebuah kardus, terlihat tumpukan roti-roti Aoka yang digunakan belum terjual. Stok hasil ini telah ada sekitar dua minggu.
Sedangkan, sebelum berita zat berbahaya pada roti Aoka menyebar, Imam mengaku sanggup mengirimkan satu kardus roti Aoka di waktu yang cukup singkat. “Satu dus dua hari sih,” ujar Imam. Sebagai informasi tambahan, satu karton komoditas Aoka ini berisi 60 bungkus roti.
Sedangkan dalam warung kecil milik Ros di dalam bilangan Pondok Kelapa, DKI Jakarta Timur, penurunan perdagangan roti Aoka juga terasa. “Tadinya kan, ini kalo ngambil dua, tiga dus. Laku banget, pesat. Sekarang itu aja masih segitu,” ujar Ros, sembari menunjuk sebuah kardus yang tersebut masih dipenuhi komoditas roti Aoka. Stok roti ini dimutakhirkan dua hari lalu, tetapi baru terjual beberapa bungkus saja.
Saat ini, menurut Ros, pelanggannya lebih lanjut memilih untuk membeli barang roti yang tersebut berasal dari bisnis rumahan dibandingkan komoditas pabrik. “Malahan pindahnya ke roti-roti yang tersebut biasa,” katanya.
Sebelumnya, Majalah Tempo berjudul “Bahan Pengawet Kosmetik di Sepotong Roti” melaporkan adanya zat sodium dehydroacetate (dalam bentuk asam dehidroasetat) di hasil roti Aoka (PT Indonesi Bakery Family) dan juga roti Okko (PT Abadi Rasa Food).
Menurut laporan Majalah Tempo, Ketua Paguyuban Roti dan juga Mie Ayam Borneo (Parimbo), Aftahuddin, mengirimkan beberapa sampel roti ke laboratorium milik SGS Nusantara – bagian dari SGS Group, perusahaan yang mana menyediakan jasa laboratorium verifikasi, pengujian, inspeksi, serta sertifikasi.
Berdasarkan hasil uji laboratorium tersebut, sampel roti Aoka disebut mengandung sodium dehydroacetate sebanyak-banyaknya 235 miligram per kilogram, lalu sampel roti Okko mengandung zat sejenis sejumlah 345 miligram per kilogram. Produsen roti Aoko maupun roti Okko sama-sama membantah temuan tersebut.
Artikel ini disadur dari Roti Okko Ditarik dari Peredaran, Pemilik Warung Ini Wanti-wanti: Jangan Bikin Rugi, Produk Ditarik tapi Tidak Dibayar..






