Stok Karbon Hutan Mangrove Tanah Air 3 Miliar Ton, tak Cukup Kendalikan Suhu Global
INFO NASIONAL – Tanah Air mempunyai 20-23 persen luasan hutan mangrove di dalam dunia. Sementara 43 persen pada Asia. Diketahui, mangrove mempunyai fungsi nilai secara ekonomi, ekologi, lalu sosial.
“Paling penting, mangrove memiliki peran terhadap pengendalian iklim,” kata Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan juga Kehutanan, Alue Dohong, di acara memperingati Hari Mangrove Sedunia yang diselenggarakan Badan Restorasi Gambut lalu Mangrove (BRGM) di Grand Ballroom Kempinski, Jakarta, 26-27 Juli 2024.
Memiliki hutan mangrove eksisting seluas 3,44 juta hektar ,diperlukan bidang usaha yang berkelanjutan untuk mengendalikan suhu global menuju 1,5 derajat celcius pada 2030, yang tersebut membutuhkan 50 miliar ton per tahun. “Kita kemungkinan mempunyai jumlah total stok karbon dalam hutan mangrove ketika ini kurang lebih lanjut 3 gigaton karbon atau kurang kebih 3 miliar ton karbon.”
Alue mengatakan, perhitungan itu berdasarkan hasil kajian peneliti jika Australia, Daniel M. Alongi. Pada 2012, Daniel mengkaji perkiraan stok karbon di dalam lahan mangrove Nusantara 1 hektare kurang lebih besar 937 ton per hektare. “Sebagian besar stok itu berada di burial carbon atau karbon yang dimaksud ada di sedimen mangrovenya. Bukan yang ada di tegakkan atasnya,” ujar Alue. “Jadi, karbon dari mangrove 3 miliar ton itu semata-mata bisa jadi untuk menyimpan saja. Itu gambarannya.”
Apalagi, lanjut Alue, Daniel M. Alongi merevisi nomor dari 1 hektare mangrove Negara Indonesia 937 ton per hektare direvisi turun berubah menjadi kurang lebih besar 739,9 ton per hektare pada publikasinya pada tahun 2020. Kenapa itu turun? tentu ada alasan,” ucap dia.
Salah satunya, kata Alue, kemungkinan tegakan mangrovenya semakin berkurang per hektarenya, lantaran konversi, kemudian sebagainya. Artinya, menurut dia, 3 miliar ton yang mana dimiliki mangrove Indonesia dari waktu ke waktu kalau tak dijaga, bukan dipelihara, maka cenderung akan turun. “Karena tanpa vegetasi pada berhadapan dengan mangrove tidak ada ada akumulasi karbon, tak ada additional carbon yang mana berlangsung pada sistem ekologi mangrove. Bahkan cenderung mengalami pengurangan.”
Alue menuturkan, jikalau mangrove dikelola dengan baik, dijaga juga dipelihara, maka faedah perekonomian sosial dan juga lingkungan juga lain-lain akan bertambah bagus. Nyatanya, lanjut dia, BRGM menyatakan terdapat ancaman deforestasi kemudian konversi mangrove masih terus berlangsung. “Apabila kita tidaklah kendalikan ini, implikasi negatifnya cukup banyak,” ujar dia.
Di antaranya, lanjut Alue, hilangnya mangrove akibat konversi, berjalan laju emisi gas rumah kaca yang tersebut besar bersumber dari ekosistem mangrove, juga fungsi-fungsi lingkungan lalu ekonomi yang hilang. Mangrove, kata Alue, sesungguhnya juga merupakan bagian dari ecological defence system, sistem pertahanan negara, yang harus dijaga.
Kementerian Lingkungan Hidup juga Kehutanan dengan BRGM ingin terus mengawal strategi rehabilitasi mangrove yakni dengan 3M: Memulihkan, Meningkatkan, kemudian Mempertahankan.
“Memulihkan yang tersebut sudah ada rusak melalui penanaman. Tidak tanam, tinggal, terhenti tetapi tanam, pelihara, jaga,” ujar dia. Sementara itu mangrove yang dimaksud mengalami degradasi, ekosistemnya harus ditingkatkan. “Sedangkan mangrove yang tersebut masih baik, harus kita jaga,” ujar dia.
Jika penyetoran mangrove berpotensi meningkatkan stok karbon maka nilai dunia usaha karbon pun bisa jadi ditingkatkan. Dengan mempertahankan mangrove, nilai dunia usaha karbon mangrovenya dapat di monetize, sehingga dapat berubah jadi insentif ekonomi, bukanlah pengganti ekonomi.
Alue pun menegaskan, kegiatan nilai sektor ekonomi karbon yang dinilai adalah effortnya, usaha-usahanya. “Kegiatan investasi kembali mangrove, positive additional yang digunakan dibayar, bukanlah stoknya yang dimaksud dibayar, tidak stok 3 miliar ton tadi, dikarenakan kalau seperti itu kita, Nusantara telah kaya raya. Tetapi ada effort lain sehingga mendapat insentif financial. Kerangka kerja REDD+ yang digunakan diakui pada Pasal 5 Paris Agreement.”
Wakil Menteri Lingkungan Hidup juga Kehutanan, Alue Dohong, pada acara memperingati Hari Mangrove Sedunia yang dimaksud diselenggarakan BRGM dalam Grand Ballroom Kempinski, Jakarta, 26-27 Juli 2024. Dok. BRGM
Ada alasan kenapa globus lalu Negara Indonesia harus peduli dengan inovasi iklim. Penasihat Senior Menteri Sektor Perubahan Iklim lalu Konvensi Internasional Kementerian Lingkungan Hidup lalu kehutanan, Nur Masripatin membeberkan dua contoh ke antaranya.
Pertama, inovasi besar muka laut dari waktu ke waktu yang tersebut mengalami kenaikan ekstrem dari 1980 hingga 2020. “Kedua, cuaca ekstrem. Dulu kita jarang mengalami putting beliung, temperatur tinggi. Tapi tahun kemudian telah mengalami itu,” kata dia.
Nur kemudian mengamati Paris Agreement. Awalnya targetnya merawat kenaikan temperatur bumi tidak ada melebihi 2 derajat. “Setelah berjalan sekian tahun dari Paris Agreement diadopsi, kita harus menuju 1,5 derajat kalau tidak ada ingin dampak yang tersebut serius.”
Komitmen yang mana dinyatakan oleh semua negara sampai sekarang, lanjut Nur, baru dapat mengamankan antara suhu 2 serta 3. “Berarti kita terpencil dari aman.”
Nur mengatakan, semua negara pada akhirnya dituntut untuk meninggal kontribusinya pada penurunan emisi global (meningkatkan ambisi mitigasi). Secara kolektif semua negara juga harus menurunkan emisi global sebesar 43 persen dari tingkat emisi tahun 2019 pada tahun 2030.
“Semua negara diharapkan submit New Nationally Determined Contribution (NDC) paling lambat Februari 2025 dengan target mitigasi serta adaptasi yang lebih besar ambisius, Tanah Air ketika ini di langkah-langkah menyiapkan Second NDC.” Dan nilai dunia usaha karbon (NEK) didesain untuk mengupayakan pencapaian target NDC,” ujar dia.
Peneliti BRIN Virni Budi Arifianti mengatakan, mangrove memiliki kemampuan untuk menerima karbon namun apabila terganggu maka mangrove ini mempunyai kemampuan untuk melepas karbon ke atmosfer di bentuk emisi gas rumah kaca yang dimaksud sangat tinggi pula. “Kita harus hati-hati dengan habitat mangrove lalu juga ekositem lahan basah lainnya misalnya gambut.”
Hasil penelitian dalam Delta Mahakam, lanjut dia, bagaimana mangrove yang dimaksud bagus dikonversi berubah menjadi tambak dan juga berapa efek rumah kaca (ERK) yang dimaksud dihasilkan. “Ternyata sangat besar,” ucapnya. Hampir 50 persen dari cadangan karbon mangrove yang mana masih bagus ini akan hilang apabila mangrove ini dikonversi bermetamorfosis menjadi tambak.
Biasanya, lanjut dia, rata-rata tambak yang dimaksud beroperasi pada Delta Mahakam sekitar 16 tahun, pasca itu produksi menurun. Virni sesudah itu menghitung apabila mangrove ini dikonversi menjadi tambak kemudian tambak ini produksi optimumnya selama 16 tahun maka kalau kita mau memulihkan kembali situasi cadangan karbon ke tanah, maka kita butuh 226 tahun. “Jadi sangat lama.”
Namun, apabila mangrove yang disebutkan telah terdegradasi maka mau bukan mau harus direstorasi dengan penyetoran kembali. “Dalam waktu 10 tahun berdasarkan bio massa ke menghadapi dan juga bawah tanah, sudah ada mulai hampir sebanding antara mangrove yang dimaksud masih alami dengan yang mana direstotasi. Hal ini pada keadaan mangrove yang dimaksud dulu tambak kemudian direstorasi.”
Sejumlah petani menyetorkan mangrove pada kawasan mangrove Desa Simandulang, Kecamatan Kualuh Leidong, Kota Labuhanbatu Utara, Sumatera Utara, Kamis 14 Desember 2023. ANTARA FOTO/Yudi
Di Delta Mahakam, lanjut dia, berbagai mangrove yang dimaksud dikeruk kemudian ditelantarkan. “Makanya upaya untuk memulihkan tambak-tambak yang telah ditelantarkan ini berjauhan lebih lanjut sulit dibandingkan tambak-tambak yang digunakan masih beroperasi.”
Virni kemudian memohonkan untuk tidaklah berfokus pada nilai karbon yang digunakan ada pada mangrove.Menurut dia, nilai non karbon dari mangrove juga tidaklah kalah penting khususnya untuk adaptasi pembaharuan iklim. “Kalau dari hasil penelitian World Bank, telah dinominasikan berapa nilainya. Secara rata-rata berkisar US$ 15-50 ribu per hektare pertahun. “Sangat tinggi,” ucapnya.
Menurut studi Profesor Taufan, kata Virni, nilai itu akan lebih tinggi tinggi lagi apabila mangrove terdeforestasi. Maka cost dari nilai karbon yang tersebut hilang secara sosial berkisar sekitar US$107 ribu per hektare. “Kalau nilai karbon kita dinilai US$5 dolar per ton CO2, maka masih sangat rendah dibandingkan dengan nilai jasa lingkungan dari mangrove yang tinggi.”
Virni kemudian memberikan hasil penelitian BRIN dengan YKAN terkait peluang sumbangan dari lingkungan mangrove apabila melakukan konservasi saja, restorasi atau investasi saja, serta keduanya. “Hasilnya kalau menginvestasikan hanya nilai kontribusi mitigasi dari biosfer mangrove 4 kali lebih banyak rendah daripada mengkonservasi mangrove yang tersebut telah ada.”
Dia pun mengapresiasi pemerintah yang tersebut sudah ada berupaya merestorasi mangrove yang tersebut sudah ada terdegradasi. “Itu telah sangat baik namun kita tak boleh lupa apabila kita melakukan konservasi mangrove yang digunakan tersisa berjauhan lebih banyak lebih tinggi nilainya sumbangan mitigasinya terhadap pembaharuan iklim.” oleh akibat itu, lanjut dia, yang tersebut diperlukan direalisasikan mengkombinasikan upaya restorasi dengan konservasi biosfer mangrove.
Direktur Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim, Kementerian LHK Laksmi Dhewanthi menekankan komitmen Indonesia untuk pembaharuan iklim. “Kalau kita bicara nilai dunia usaha karbon maka bukan mampu terlepas dari komitmen kita terhadap jadwal pengendalian pembaharuan iklim khususnya avgnda mitigasi inovasi iklim. Hal ini adalah target yang mana penting kita capai di 2030,” tutur dia.
Indonesia, kata dia, sedang menyiapkan komitmen kedua atau SNDC yang tersebut komitmennya berjauhan berubah. Skor kegiatan ekonomi karbon diatur di Peraturan Presiden Nomor 98 tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Skor Perekonomian Karbon untuk Pencapaian Target Kontribusi yang dimaksud Ditetapkan Secara Nasional dan juga Pengendalian Emisi Gas Rumah Kaca pada Pembangunan Nasional.
“Tujuannya tidaklah semata untuk ekonomi. Bahwa ada faedah perekonomian iya, akan ada insentif bagi yang melakukan upaya mitigasi iya, tapi bukan mampu dibalik jadi nilai kegiatan ekonomi karbon, perdagangan karbon, perdagangan emisi atau pembayaran berbasis kinerja, itu belaka bisa jadi muncul kalau kita melakukan upaya mitigasi,” ujar dia.
Kepala Badan Restorasi Gambut juga Mangrove, Hartono sebagai tuan rumah di Dialog Publik Mangrove for Future, menegaskan pentingnya kolaborasi dari beraneka sektor bermetamorfosis menjadi kunci keberhasilan rehabilitasi mangrove.
“Kolaborasi antar stakeholders, berubah menjadi kunci keberhasilan rehabilitasi mangrove dari sektor kelembagaan hingga upaya pelestarian ditingkat tapak. Saat ini, BRGM bersatu KLHK sudah ada menggalakkan penerbitan RPP untuk Perlindungan Pengelolaan Ekosistem Mangrove. “Kita harapkan mampu diterbitkan pada tahun ini sehingga pelaksanaannya mampu kita implementasikan mulai tahun depan,” ucap Hartono (*)
Artikel ini disadur dari Stok Karbon Hutan Mangrove Indonesia 3 Miliar Ton, tak Cukup Kendalikan Suhu Global






