Huawei dan juga BSSN Latih 500 Personel TNI AU Perlindungan Siber
Jakarta – Huawei sama-sama Badan Siber lalu Sandi Negara (BSSN) melatih personel TNI Angkatan Lingkungan (TNI AU) menghadapi keamanan siber. Pembinaan ini untuk mengetahui tingkat literasi digital sekaligus pengenalan teknologi keamanan siber terkini yang mana berubah menjadi elemen penting pada pertahanan negara.
Pelatihan siber untuk TNI AU ini diselenggarakan di dalam Gedung Pramanasala, Sekolah Komando Kesatuan TNI AU Halim Perdanakusuma. Pesertanya sejumlah 500 personel yang mana mengusung tema Menghadirkan Digital Trust in the Digital Era.
Kepala BSSN Hinsa Siburian menegaskan bahwa literasi digital dan juga keamanan siber di dalam lingkungan TNI AU sangat diperlukan. Ia menilai, wajib adanya tanggung jawab seluruh stakeholder ekosistem digital untuk menjawab tantangan siber dalam masa pada masa kini yang tersebut kian kompleks.
“BSSN menyambut baik niat Huawei untuk berbagi wawasan pada rangka penguatan literasi dan juga kompetensi digital dalam bidang keamanan siber. Pendidikan ini patut diapresiasi sebab bertujuan untuk terus mengembangkan keamanan serta pertahanan Indonesia,” kata Hinsa dikutipkan dari keterangannya, Rabu, 24 Juli 2024.
Pelatihan yang dimaksud diklaim dapat meningkatkan kewaspadaan pada era digital seperti sekarang ini. BSSN mengharapkan personel TNI AU dapat mengenali tantangan keamanan juga mengatasi ancaman siber lebih tinggi cepat lewat deteksi dini yang mana terukur. TNI AU diharapkan sanggup mengeksplorasi solusi inovatif dari pelatihan ini kemudian menjalin kolaborasi yang produktif dengan praktisi siber di dalam masa mendatang.
Cyber Security and Privacy Officer Huawei Indonesia, Syarbeni, menjelaskan bahwa keamanan siber bukanlah perkara pertahanan semata. Namun juga mencakup pada konektivitas antara aspek ekonomi juga kelangsungan usaha sebuah negara. Dia melihat, tantangan juga risiko keamanan digital di dalam masa pada masa kini semakin meningkat seiring dengan hadirnya era digitalisasi.
“Huawei berinisiatif menjalin kolaborasi multipihak di berbagi ilmu juga pengetahuan digital secara mendalam dan juga mencakup aspek people, process serta technology,” ujar Syarbeni, dikutipkan dari siaran pers yang mana sama. “Keamanan siber merupakan pondasi utama terbentuknya kepercayaan masyarakat terhadap teknologi digital,” katanya menambahkan.
Belangan, pemerintah kerap dipusingkan para hacker. Yang terbaru setelah itu adalah peretasan oleh kelompok hacker Ransomware Brain Cipher. Bermacam-macam data pada Pusat Informasi Nasional Sementara atau PDNS2 Surabaya sempat dibuat terkunci lalu tak bisa saja diakses akibat peretasan ini.
Selain Brain Cipher, kelompok peretas lainnya juga pernah menyasar Indonesia. Misalnya Bjorka yang sempat menciptakan riuh suasana keamanan siber Negara Indonesia dua tahun lalu. Bahkan pada masa Bjorka menyerang ini, Kementerian Komunikasi serta Informatika (Kominfo) sampai mengajukan permohonan hacker jangan menyerang atau meretas Indonesia lagi.
Artikel ini disadur dari Huawei dan BSSN Latih 500 Personel TNI AU Pertahanan Siber





