Windows Blackout 8,5 Juta Peralatan dalam Dunia, CrowdStrike Jelaskan Apa yang tersebut Terlaksana
Jakarta – Sebanyak 8,5 jt perangkat komputer ke dunia mengalami blue screen of death (BSOD) di insiden Windows blackout pada Jumat, 19 Juli 2024. Gangguan sudah pernah diketahui bersumber dari update gagal media antivirus Falcon milik CrowdStrike yang disematkan di dalam sistem operasi Windows.
Microsoft sebagai pengembang sistem operasi Windows menganggap gangguan jiwa itu sebagai sebuah bencana teknologi yang besar lalu berdampak. Sebanyak 8,5 jt perangkat Windows ini memang sebenarnya tak sampai satu persen dari total mesin Windows yang ada ke planet pada waktu ini. Namun, itu telah cukup untuk memukul para retailer, perusahaan maskapai penerbangan, bank, serta sejumlah bidang lainnya, seperti halnya juga individu-individu, yang tersebut selama ini bergantung terhadap Windows.
Terpisah, penjelasan teknis dari CrowdStrike mengonfirmasi apa yang tersebut disebut file konfigurasi berada dalam pusaran permasalahan asal-mula Windows blackout hari terakhir pekan lalu. Biasa dirujuk sebagai Channel Files, file-file ini adalah bagian dari mekanisme proteksi perilaku yang dimaksud digunakan sensor Falcon–sebuah solusi berbasis cloud yang tersebut mengkombinasikan banyak solusi keamanan ke sebuah hub, endpoint protection, deteksi ancaman, lalu pemantauan real-time untuk menjaga dari adanya akses ilegal ke sistem sebuah perusahaan.
Pembaruan yang dimaksud dilaksanakan terhadapnya juga normal sebagai bagian dari pengoperasian sensor yang tersebut menjadi sistem flagship CrowdStrike itu, kemudian dapat muncul beberapa kali di sehari sebagai respons terhadap prosedur, teknik, kemudian taktik baru yang digunakan ditemukan CrowdStrike. Channel Files bukanlah sebuah driver inti tapi ia bertanggung jawab menghadapi bagaimana Falcon mengevaluasi apa yang dimaksud dinamakan pipe1 execution pada sistem Windows.
Peneliti keamanan juga pendiri Objective-See, Patrick Wardle, mengungkapkan bahwa penjelasan yang dimaksud sejalan dengan analisis yang digunakan ia serta beberapa jumlah pakar lain telah sempat sampaikan, yakni, “File bermasalah C-00000291- sudah pernah menyebabkan sebuah eror logis yang berujung OS crash.”
Reputasi CrowdStrike
Insiden itu menodai reputasi CrowdStrike yang mana sebelumnya dipandang telah dilakukan berperan penting di membantu banyak perusahaan menemukan dan juga mengurangi pelanggaran keamanan siber. CrowdStrike mengumumkan diri sebagai yang dimaksud tercepat pada mendeteksi ancaman.
CrowdStrike telah terjadi berdiri sejak 2011 kemudian dengan kantor pusatnya di Texas, Amerika Serikat. Korporasi ini pula yang dimaksud pernah menangani gangguan mental peretasan Sony Pictures 2014 sesudah itu juga serangan siber Rusia terhadap Komite Nasional Demokrat 2015 serta 2016. Sebelum kejadian Windows blackout Hari Jumat lalu, perusahaan ini tercatat memiliki nilai valuasi mencapai lebih banyak dari US$ 83 miliar atau lebih besar dari Mata Uang Rupiah 1.300 triliun.
Wisatawan menanti penerbangan merek pada dekat monitor yang mana menampilkan layar kesalahan berwarna biru, juga dikenal sebagai “Blue Screen of Death” dalam di Terminal C di Bandara Internasional Newark, pasca United Airlines juga maskapai penerbangan lainnya menghentikan penerbangan lantaran pemadaman teknologi pada seluruh globus yang dimaksud disebabkan oleh pembaruan pada Crowdstrike’s Alat lunak “Falcon Sensor” yang digunakan menyebabkan sistem Microsoft Windows mogok, di Newark, New Jersey, AS, 19 Juli 2024. REUTERS/Bing Guan
Disadur dari laman resmi CrowdStrike, perusahaan ini mempunyai tambahan dari 29 ribu pelanggan ke seluruh dunia. Mereka tersebar dari bermacam kalangan kemudian 500 ke antaranya adalah perusahaan besar yang digunakan masuk di daftar Fortune 1000.
CEO CrowdStrike George Kurtz mengungkapkan bahwa perusahaannya secara terlibat bekerja dengan pelanggan yang mana terkena dampak kelainan pada Hari Jumat lalu. CrowdStrike secara tegas mengklaim kalau blue screen pada jutaan perangkat itu akibat cacat satu update konten untuk Windows saja, bukanlah imbas dari serangan siber atau sejenisnya. Gangguan juga tak sampai berdampak ke perangkat bermesin Mac lalu Linux.
Update yang tersebut dimaksud kelihatannya menginstal software yang salah ke pada inti sistem yang digunakan mengoperasikan Windows. Dampaknya, sistem berubah menjadi macet serta menunjukkan arahan eror berbunyi:It looks like Windows didn’t load correctly. Windows kemudian memberikan opsi metode troubleshooting atau me-restart PC.
Meskipun CrowdStrike telah dilakukan memulihkan problem blue screen, menyiapkan semua kembali ke kedudukan semula dan juga beroperasi normal kembali tiada semudah yang dimaksud dibayangkan. Tantangan ini dianggap membutuhkan waktu berhari-hari bahkan berminggu-minggu untuk diselesaikan, sebab administrator TI CrowdStrike mungkin saja harus memiliki akses fisik ke perangkat untuk membuatnya dapat berfungsi kembali.
THE VERGE
Artikel ini disadur dari Windows Blackout 8,5 Juta Perangkat di Dunia, CrowdStrike Jelaskan Apa yang Terjadi






