Bisnis

Pelaku Usaha Depot Air Minum Minta Produsen Buktikan Galon Polikarbonat

JAKARTA – Para pelaku usaha yang tersebut tergabung pada Asosiasi Depot Air Minum (Asdamindo) memohon produsen air minum galon sekali pakai (GSP) yang terkesan memojokkan galon Polikarbonat (PC) pada iklannya agar membuktikan kebenarannya.

“Kita ingin buktinya pada mana tempatnya yang tersebut dapat seperti itu, galonnya dimasuki kecoak. Ilustrasi yang dibuat di iklan itu sangat menghina dan juga menyudutkan kita para pelaku usaha depot air minum yang digunakan sangat tergantung pada galon Polikarbonat,” ujar Ketua Umum Asdamindo, Erik Garnadi untuk media baru-baru ini.

Dia melihat, iklan yang digunakan dibuat produsen GSP itu cuma memberikan deskripsi bahwa mereka itu sebenarnya mengalami ketakutan kalah bersaing dari segi pelanggan dengan para pengusaha perusahaan depot air minum. “Dengan adanya iklan tersebut, kita mengamati jelas nampaknya dia pada ketakutan juga kalah di segi pelanggan oleh UMKM yaitu depot air minum,” tukasnya.

Terkait persoalan kebersihan kemudian kemampuan fisik galon, Erik malah mengkritisi produsen GSP yang dimaksud tidak ada mengawasi pengaplikasian galonnya yang tersebut juga banyak digunakan warga pada waktu membeli air minum isi ulang di area depot-depot. “Itu kan membuktikan galon sekali pakai pun masih berbagai yang mana bukan ditarik dan juga malah diisi ulang di area tempat pengisian depot air minum. Saya kira itu jarak jauh lebih besar berbahaya bagi kemampuan fisik warga konsumen,” ucapnya.

Seharusnya kata Erik, di tempat antara para pelaku perniagaan air minum itu melakukan persaingan secara sehat belaka dan juga jangan saling menyudutkan. “Seharusnya saling membantu terkait penyelenggaraan juga pengawasannya. Kalau ada yang bukan berkenan lebih lanjut baik duduk dengan lalu jangan mendiskriminatifkan komoditas yang dimaksud lain seperti yang tersebut diadakan GSP itu,” katanya.

Salah satu pelaku perniagaan depot air minum Willy Chandra, juga menilai iklan produsen GSP itu sangat mendiskreditkan para pelaku usaha yang digunakan menggunakan galon Polikarbonat. “Cara promosinya terkesan bukan mempunyai etika berbisnis yang digunakan sehat. Tapi, publik kita kan tiada bodoh, pasti dapat menilai bahwa iklan itu semata-mata untuk persaingan bidang usaha saja,” tuturnya.

Iklan GSP itu dinilai terkesan ada unsur persaingan usahanya adalah menggunakan galon Polikarbonat yang dimaksud tidaklah bermerek. Secara kenyataan di area lapangan, menurut Willy, sangat jarang galon-galon yang digunakan tak bermerek digunakan warga ketika membeli air minum isi ulang di area depot-depot.

“Kebanyakan yang tersebut digunakan itu adalah galon-galon bermerk. Mereka kemungkinan besar takut disomasi jikalau menggunakan ilustrasi galon bermerk, apalagi ilustrasinya itu tak benar,” ujarnya.

Willy mengamati apa yang digunakan diadakan produsen GSP dengan iklannya itu cuma wujud dari keserakahan bidang usaha yang menghalalkan segala cara. “Masyarakat pasti tahulah bahwa itu semata-mata untuk mendiskreditkan pelaku bidang usaha yang mana lain,” tandasnya.

Related Articles

Back to top button