Lapangan Migas Raksasa Hal ini Segera Dikembangkan, Penyertaan Modal Capai Rp280 Ribu Miliar

JAKARTA – Menteri Energi kemudian Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia telah dilakukan menyetujui rencana pengembangan lapangan pertama dari Lapangan MigasGeng North Wilayah Kerja North Ganal serta Lapangan Gehem Wilayah Kerja Ganal dan juga Wilayah Kerja Rapak (North Hub Development Project Selat Makassar). Persetujuan yang disebutkan tertuang pada Surat Menteri ESDM Nomor: T-351/MG.04/MEM.M/2024 sebagai jawaban melawan surat Kepala SKK Migas nomor SRT-0318/SKKIA0000/2024/S1 perihal Rekomendasi POD North Hub Development Project Selat Makassar Wilayah Kerja North Ganal, Wilayah Kerja Ganal lalu Wilayah Kerja Rapak.
“Sebagai Proyek Penting Nasional (PSN) Hulu Migas, maka persetujuan POD Lapangan Pertama Geng North WK North Ganal juga Lapangan Gehem WK Ganal kemudian WK Rapak menjadi kado terbaik pada perayaan HUT ke-79 Republik Indonesia,” ujar Kepala Divisi Inisiatif dan juga Komunikasi SKK Migas Hudi D Suryodipuro, baru-baru ini.
Pengembangan lapangan ini menurutnya akan menjadi milestone penting bagi sektor hulu migas pada memantapkan perannya sebagai kontributor utama di membantu pencapaian ketahanan energi Indonesia. Hudi menambahkan, persetujuan POD pada proyek PSN Hulu Migas yang dimaksud terhitung cepat dikarenakan sejak penemuan cadangan pada Geng North pada Oktober 2023, hanya sekali di waktu 10 bulan POD-nya telah disetujui.
“Ini adalah salah satu upaya untuk meningkatkan produksi migas kemudian implementasi salah satu strategi yaitu mengonversi sumber daya ke produksi,” tegas Hudi.
Pemerintah berharap persetujuan POD Lapangan Pertama Geng North WK North Ganal dan juga Lapangan Gehem WK Ganal serta WK Rapak ini semakin meningkatkan gairah penanaman modal di area sektor hulu migas. Hudi menuturkan, dengan persetujuan POD ini, maka akan ada penanaman modal raksasa yang digunakan masuk ke Indonesia.
Diperkirakan, biaya penanaman modal (di luar sunk cost) sebesar USD11.847 jt serta biaya operasi (termasuk biaya ASR, PPN serta PBB) sebesar USD5.643 juta. Sehingga, total keseluruhan pembangunan ekonomi untuk pengembangan lapangan ini mencapai USD17.490 jt atau sekitar Rp280 triliun (kurs Rp16.000 per USD). Adapun untuk total sunk cost WK North Ganal kemudian WK Rapak ditetapkan sebesar USD859 juta. “Investasi Rp280 triliun tentu sangat besar oleh sebab itu 2,5 kali lebih lanjut besar daripada penanaman modal kereta cepat Jakarta-Bandung yang mana sekitar Rp112 triliun,” cetusnya.
Sementara itu, prospek pendapatan secara keseluruhan (gross revenue) dari lapangan ini diperkirakan mencapai sekitar USD39.457 jt atau setara dengan Rp631 triliun. Dari pendapatan tersebut, alokasi bagian eksekutif sebesar USD12.993 jt atau setara dengan Rp208 triliun atau sekitar 31,5% dari gross revenue. Adapun bagian kontraktor adalah USD8.128 jt atau sekitar 19,7% dari gross revenue, juga biaya cost recovery sebesar USD18.336 jt atau sekitar 44,4%.
“SKK Migas akan melakukan pengawasan juga kontrol semaksimal kemungkinan besar agar cost recovery bisa jadi lebih tinggi efisien, sehingga penerimaan negara dapat didorong lebih lanjut besar lagi,” kata Hudi.
Terkait dukungan bagi pemenuhan keperluan energi untuk domestik, produksi dari lapangan ini diharapkan dapat memacu tumbuhnya sektor di negeri yang membutuhkan gas, khususnya di area kawasan Kalimantan Timur kemudian Kalimantan Utara. Dengan begitu, nilai tambah yang mana diperoleh negara pun akan semakin besar.
Hudi, multiplier effect yang mana dihasilkan pun luas, mengingat tingkat komponen di negeri (TKDN) yang tinggi rata-rata sekitar 58%. “Kami berharap bidang di negeri dapat menyiapkan diri dengan meningkatkan kapasitas produksinya, sehingga pada waktu proyek ini telah berjalan maka pabrikan di negeri dapat memasok barang/jasa secara optimal,” tandasnya.






