Apakah mimpi buruk boleh diceritakan atau tidak?

DKI Jakarta – Mimpi merupakan salah satu fenomena yang digunakan kerap dialami manusia ketika tidur. Dalam ajaran Islam, mimpi dikategorikan ke di tiga jenis sebagaimana dijelaskan pada hadits Nabi Muhammad SAW, yaitu, mimpi yang tersebut berasal dari bisikan hati (haditsun nafs), mimpi yang digunakan merupakan kabar gembira dari Allah, serta mimpi menakutkan yang digunakan berasal dari setan.
Sering kali pribadi Muslim mengalami mimpi yang mana mengerikan juga mengganggu kenyamanan tidur. Mimpi semacam ini dapat membekas di pikiran bahkan pasca terbangun. Lalu, timbul pertanyaan "apakah mimpi buruk boleh diceritakan untuk pendatang lain atau sebaiknya disimpan sendiri?"
Anjuran untuk tiada menceritakan mimpi buruk
Dalam Islam, mimpi buruk bukan dianjurkan untuk diceritakan untuk siapa pun. Hal ini ditegaskan pada hadits shahih dari Rasulullah SAW:
"Mimpi baik itu dari Allah kemudian mimpi buruk itu dari setan. Barang siapa yang mana bermimpi buruk, maka meludahlah ke arah kiri tiga kali juga mohonlah pemeliharaan pada Allah dari setan, maka mimpi itu tak akan membahayakannya, dan juga jangan ceritakan (mimpi itu) terhadap siapa pun."
(HR. Muslim)
Hadits ini menegaskan bahwa mimpi buruk tiada harus diceritakan sebab dapat berubah menjadi sumber kelainan serta kekhawatiran. Bahkan, pada riwayat lain disebutkan bahwa jikalau mimpi itu bukan benar, setan dapat menyerupainya untuk menyesatkan serta menakut-nakuti manusia.
Tuntunan pada waktu mengalami mimpi buruk
Islam memberikan tuntunan yang jelas bagi manusia Muslim pada saat mengalami mimpi buruk agar terhindar dari pengaruh negatif serta gangguan mental setan. Berikut lima anjuran yang mana disunnahkan:
1. Meludah ke arah kiri sebanyak-banyaknya tiga kali
Hal ini dikerjakan sebagai bentuk simbolik mengusir gangguan setan.
2. Memohon pengamanan untuk Allah dari keburukan mimpi
Ucapkan doa:
"اللهم إني أعوذ بك من عمل الشيطان ومن سوء الأحلام"
"Allâhumma innî a‘ûdzubika min ‘amalisy-syaithâni wa sayyi’ât al-ahlam."
Artinya: "Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari perbuatan setan dan juga buruknya mimpi."
3. Membaca ta’awwudz (A‘ûdzu billâhi minasy-syaithânir-rajîm)
Ini dilaksanakan tiga kali sambil meniupkan ke arah kiri.
4. Mengubah tempat tidur
Jika sebelumnya tidur miring ke kanan, maka dianjurkan berpindah ke sisi lain untuk memutus suasana mimpi tersebut.
5. Bangun juga melaksanakan shalat
Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
"Barang siapa yang tersebut bermimpi sesuatu yang tersebut tak disukai, maka jangan ceritakan untuk siapa pun. Berdirilah setelah itu shalatlah."
(HR. al-Bukhari).
Pengecualian: Menceritakan untuk penduduk alim
Meski secara umum bukan disarankan menceritakan mimpi buruk untuk siapa pun, para ulama menjelaskan bahwa jikalau sangat diperlukan, mimpi buruk bisa jadi diceritakan terhadap pemukim alim atau seseorang yang kita percayai lalu sayangi. Tujuannya adalah untuk mencari nasihat atau penjelasan, tidak untuk menafsirkan atau membesar-besarkan mimpi tersebut.
Seperti yang disampaikan oleh Ustaz Miftahul Huda:
"Jangan menceritakan mimpi buruk terhadap warga lain kecuali untuk pendatang yang alim kemudian kita sayangi. Jangan juga menafsirkan mimpi yang mana dialami. Jika mimpi itu tidak ada benar, maka setan akan menyerupainya."
Dengan demikian, berdasarkan tuntunan syariat Islam, mimpi buruk sebaiknya tidaklah diceritakan untuk sembarang orang. Sebaliknya, kita diajarkan untuk memohon proteksi untuk Allah, melakukan beberapa sunnah seperti meludah ke kiri, membaca doa serta ta’awwudz, mengubah kedudukan tidur, dan juga mendirikan shalat.
Semua itu adalah bentuk pemeliharaan spiritual yang diajarkan Nabi Muhammad SAW untuk melindungi hati kemudian pikiran tetap tenang, dan juga menghindarkan diri dari gangguan jiwa setan.
Semoga kita semua senantiasa dilindungi oleh Allah SWT dari mimpi buruk serta masalah yang meresahkan jiwa.
Artikel ini disadur dari Apakah mimpi buruk boleh diceritakan atau tidak?






