Olahraga

Kisah Perseteruan Abadi Oscar De La Hoya vs Floyd Mayweather Jr

Kisah perseteruan abadi Oscar De La Hoya di tempat antara persaingan, kebencian dan juga kekaguman terhadap Floyd Mayweather Jr. Rasa benci, rasa saling tidak ada suka antara dua petinju terbaik dari generasi terakhir – Floyd Mayweather Jr. juga Oscar De La Hoya – bukan hanya sekali terjadi sebelum pertarungan super mereka itu di area tahun 2007, tetapi juga berlanjut setelahnya.

Meskipun Mayweather terus bertarung berkali-kali pada bawah bendera Golden Boy Promotions milik De La Hoya, kerap dikatakan bahwa Mayweather melakukan hal itu lantaran hubungannya dengan Richard Schaefer, yang tersebut merupakan ketua eksekutif perusahaan pada ketika itu. Ketika Schaefer serta Golden Boy berpisah, Mayweather juga mengakhiri hubungannya dengan Golden Boy (seperti halnya sebagian petinju lainnya).

Selama bertahun-tahun, De La Hoya tiada pernah malu-malu untuk menjelek-jelekkan Mayweather. Dia juga terkadang memuji Mayweather. Namun tetap saja cuma sedikit mengejutkan, serta juga cukup menyegarkan, untuk mendengar De La Hoya memuji Mayweather ketika berbicara dengan pemain sepak bola Hall of Fame, Shannon Sharpe, pada episode terbaru Club Shay Shay. “Floyd adalah seseorang petarung yang tersebut hebat,” kata De La Hoya. Kemudian, ia mengumumkan Mayweather sebagai “salah satu yang tersebut terbaik.”

“Saya menyukai kesabarannya,” kata De La Hoya. “Saya menyukai fakta bahwa ia adalah orang pemukul keras kemudian mempunyai dagu. Orang-orang mendiskreditkan beliau dikarenakan tidaklah miliki dagu. Dia miliki dagu. Dan ia mempunyai hati yang dimaksud besar. Yang membuatnya unik jelas adalah kemampuan tinjunya, namun kemampuannya dalam menghadapi ring lah yang tersebut menghasilkan saya tertarik. Dia tahu bagaimana memilih tempat yang tepat. Ia tahu bagaimana cara menyebabkan Anda lelah tanpa harus melayangkan pukulan. Itu gila.”

Mayweather mengalahkan De La Hoya melalui langkah terbelah, beberapa tahun yang mana lalu. De La Hoya percaya pada pada waktu itu bahwa ia sudah melakukan cukup banyak hal untuk menang. “Ketika Anda menjadi individu petarung di area di ring, ketika bel akhir berbunyi, Anda tahu dalam pada hati, di tempat di hati serta secara fisik jikalau Anda menang atau kalah. Anda belaka merasakannya. Itu adalah sebuah sensasi, dan juga saya baru hanya merasakannya,” kata De La Hoya.

“Apakah saya salah atau benar, saya bukan peduli. Itu tidak ada penting. Saya bertarung melawan yang tersebut terbaik pada diri Floyd Mayweather, yang mana tambahan muda, pada masa jayanya, tak terkalahkan. Dan saya berada pada berhadapan dengan bukit, dengan berbagai cedera. Saya cukup bangga dengan apa yang saya capai di malam hari itu, jadi kemungkinan besar saya meyakinkan diri saya sendiri bahwa saya menang, tetapi saya merasa secara fisik kemudian mental bahwa saya telah lama melakukan cukup banyak hal, dikarenakan saya adalah juara pada pertarungan itu.”

“Anda mengambil semua variabel itu. Saya merasa mungkin saja saya [meyakinkan] diri saya sendiri bahwa saya meraih kemenangan pertarungan itu,” tambah De La Hoya.

“Itu adalah pertarungan 12 ronde. Sebagai petarung elite, Anda setiap saat mencatatkan apa yang tersebut Anda lakukan setiap detik, setiap menit: ‘Oke, saya mempunyai ronde ini di area kantong, saya miliki satu ronde, satu ronde, oke, mungkin saja enam atau tujuh. Biarkan saya melaju. Jika saya mengalami cedera seperti yang tersebut saya alami pada waktu laga, oleh sebab itu rotator cuff saya robek sebelum laga, anda akan mulai berpikir, ‘Jika saya melenggang pada di lokasi ini kemudian mendaratkan beberapa pukulan, saya sudah meraih kemenangan ronde pertama, maka mungkin saja apabila saya mengungguli satu ronde lagi, saya dapat mengungguli laga 7-5, atau kemungkinan besar imbang.”

”Anda mulai berpikir seperti itu, lalu itu bisa jadi menjadi sebuah kesalahan, atau mampu juga menjadi nilai tambah. Jelas waktu malam itu bagi saya adalah kesalahan besar. Saya seharusnya progresif ke sana dan juga memberikan segalanya.”

Related Articles

Back to top button